Bisnis, Canberra — Tren jangka pendek menunjukkan, meski konsumsi rumah tangga stabil, terjadi pergeseran pola konsumsi di masyarakat. Menurut Raden Pardede, Co-Founder Creco Consulting, konsumsi rumah tangga bergeser dari kebutuhan bahan pokok ke jasa dan rekreasi. 

“Perdagangan online naik sangat pesat, terutama di antara generasi muda yang tinggal di area urban,” kata Raden pada hari pertama Konferensi Indonesia Update 2017 di Australian National University, Canberra, Australia, Ahad 17 September 2017. Sementara daya beli kelompok berpenghasilan rendah dan pekerja informal menurun.

Konferensi ini membahas situasi politik dan ekonomi terkini di Indonesia. Dihadiri ratusan peserta, konferensi yang kali ini mengusung tema “Indonesia in the New World: Globalisation, Nationalism and Sovereignity” tersebut diadakan pada Jumat dan Sabtu akhir pekan ini.

Sejumlah pengamat Indonesia—dikenal dengan sebutan Indonesianis—berkumpul pada perhelatan tahunan ini. Di antaranya sejarawan Anthony Reid dan Robert Cribb, ahli politik Marcus Meitzner dan Edward Aspinall, ekonom Hal Hill, dan ahli geografi Jeffrey Neilson.

Raden menyebutkan, perubahan pola konsumsi ini mempengaruhi pedagang dan pasar, yang berpotensi berdampak negatif terhadap penciptaan lapangan kerja dan pendapatan rumah tangga, terutama di pasar tradisional. “Sebagian untung, sebagian rugi,” ujarnya.

Hal ini terlihat dari jatuhnya penjualan di pusat perbelanjaan yang lebih tua dan ‘less convenient’ sepanjang 2016-2017, sementara penjualan pada pusat perbelanjaan lebih modern mengalami kenaikan pada periode yang sama. Hal ini terihat dari survei yang dilakukan BCA di Jabodetabek.

Pusat perbelanjaan yang lebih ‘tua’ itu antara lain Metro Pasar Baru; Taman Palem Mall; Glodok Plaza; Mangga Dua Mall. Adapun pusat perbelanjaan modern meliputi Gandari City; Kasablanka Mall; Mal Central Park.

Pada periode yang sama, penjualan minimarket mengalami kenaikan. Menurut Raden, peran minimarket yang bertebaran telah menggantikan hypermarket dan pasar tradsional. “Ini yang membuat penciptaan lapangan kerja di pusat perbelanjaan yang lebih tua dan pasar tradisional berantakan,” ujar Raden, yang pernah menjadi Presiden Komisaris PT Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA).

Pada saat yang sama, pangsa pasar toko offline mulai tergerus. Hal ini terlihat dari menurunnya transaksi bulanan toko offline ketimbang penjualan melalui toko online. “Empat tahun lalu, toko online bukan siapa-siapa,” kata Raden. Transaksi e-Commerce empat tahun lalu hanya 0,64 persen. Per Juni 2017, angka tersebut naik menjadi 20,10 persen.

Tren penjualan yang melesat ini terlihat pada penjualan Tokopedia, Shopee, dan Lazada. Tak heran bila bulan lalu, Alibaba mengucurkan dana US$1,1 miliar atau Rp 14 triliun untuk Tokopedia. Sebelumnya, Alibaba telah menguasai mayoritas saham Lazada. Adapun Tencent memiliki saham di Shopee. “Terjadi pertarungan antara dua raksasa, Alibaba dan Tencent, di pasar online Indonesia,” kata Raden.

Pada saat yang sama, kedua raksasa e-Commerce tersebut mengendalikan informasi, terutama mengenai pola transaksi konsumen dan penjualan toko online, termasuk sistem pembayaran. “Setelah menguasai big data, mereka bisa masuk ke sektor perbankan, semisal sektor kredit,” kata Raden.


YANDRIE ARVIAN