Bisnis, YOGYAKARTA - Musim kemarau lebih panjang yang menyebabkan kekeringan sudah menjadi hal biasa tiap tahun yang melanda Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Bencana kekeringan di wilayah pesisir selatan menjadi hal yang harus dihadapi warga di sana.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul saat ini justru membidik peluang mewujudkan usaha industrialisasi air di wilayahnya. Terinspirasi dari Kabupaten Klaten Jawa Tengah yang bekerjasama dengan PT. Danone yang memproduksi air minum dalam kemasan seperti Aqua.
“Meski sering dianggap daerah langganan kekeringan, Gunungkidul juga punya wilayah di bagian utara yang melimpah airnya dan lebih bagus kualitasnya, ini kami kaji apakah mungkin menjadi industrialisasi ke depan,” ujar Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi usai bertemu dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Komplek Kantor Gubernur Kepatihan, Senin 18 September 2017.
Simak: NTT Daerah Paling Parah Alami Kekeringan
Immawan menuturkan, sumber air berkualitas di Gunungkidul tersebar di tiga titik. Yakni Desa Banyusoco Kecamatan Karangmojo, Kecamatan Patuk, dan Kecamatan Semanu. Immawan menuturkan, kualitas air di tiga sumber itu lebih bagus karena senantiasa terlindung kawasan karst sekitarnya.
“Jika dikelola secara besar-besaran, tiga sumber air itu bisa memasok kebutuhan air untuk wilayah DIY, ngga hanya Gunungkidul saja,” ujar Immmawan yang mengaku pernah menyampaikan keinginan industrialisasi itu kepada Presiden Joko Widodo. Melalui staf kepresiden.
Immawan memprediksikan untuk mengarahkan sumber air utama Gunungkidul kea rah industrilisasi itu, jelas butuh biaya besar. Pun perijinan indsutri sumber daya air mineral saat ini juga sudah dipindahkan kewenangannya oleh pemerintah provinsi sehingga untuk membuka peluang investasi bukan ranah pemerintah kabupaten.
“Yang penting bagi kami jika benar bisa diindustrialisasikan, maka harganya harus terjangkau atau murah bagi masyarakat Gunungkidul, agar bantuan air ke daerah kekeringan juga terjaga,” ujarnya.
Untuk mengatasi bencana kekeringan tiap tahun, Gunungkidul mengakui belum bisa menemukan sumber air baru di wilayah selatan. “Tanah di wilayah pesisir selatan, digali 200 meter tetap tak keluar air, jadi cara pragmatis untuk menolong warga masih dengan dropping,” ujarnya.
Musim kemarau ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Yogyakarta memprediksikan Gunungkidul baru diguyur hujan rutin pada pertengahan November 2017 mendatang.
Pemerintah Gunungkidul pun saat ini sudah menerima bantuan 400 tangki air dari berbagai kalangan untuk membantu memasok air bagi warga di daerah terkering seperti Kecamatan Tepus dan Girisubo. Bantuan pasokan air tersebut adalah salah satu cara mengatasi bencana kekeringan di Gunungkidul/
PRIBADI WICAKSONO