Sport, Jakarta - Asian Games 2018: Eko Yuli Irawan Beli Alat Sendiri untuk Berlatih
Suatu hari Eko--saat itu berumur 11 tahun-- dan dua kawannya sepakat untuk mendatangi dan bermain di tempat itu. Mereka kemudian diusir karena dianggap mengganggu latihan. Tak kapok, esoknya mereka menyamar dengan mengenakan celana pendek dan sepatu sekolah, agar bisa melihat latihan dari jarak dekat.
"Saat masuk, kami malah diajak latihan, disangkanya ada yang minat latihan," kata Eko saat ditemui Tempo di rumahnya di Bekasi, Selasa, 19 September 2017. Ia pun tergelak saat mengingat kawan-kawannya langsung mengeluh badan mereka sakit setelah mendadak diajak latihan angkat besi.
Eko Yuli Irawan meraih medali perunggu Olimpiade London 2012. AP/Mike Groll
Esoknya, Eko kembali datang ke tempat latihan yang berjarak 200 meter dari rumahnya itu. Namun salah satu temannya memutuskan tak ikut lagi karena merasa tak sanggup. Di hari ketiga, teman terakhirnya juga ikut berhenti berlatih. Menyisakan Eko sebagai yang paling muda di sana.
Eko mengaku bertahan di sana, karena senang berolahraga dan merasakan manfaat. "Anehnya saya gak seperti teman-teman saya, badan saya kok gak pegal-pegal (pasca latihan). Ya sudah saya putuskan untuk terus latihan," kata pria kelahiran Lampung, 24 Juli 1989 itu.
Sebulan setelah rutin berlatih, pelatih di tempat latihan itu melihat keuletan dan potensi Eko. Mulai saat itu, tiap bulannya, Eko mulai mendapat uang saku sebesar Rp 2.500 per minggunya. Meski pas-pasan, namun Eko mengatakan uang itu ia gunakan untuk jajan dan tak lagi meminta uang kepada orang tuanya.
Eko Yuli Irawan meraih medali perak di Olimpiade 2016 di Brasil. REUTERS/Yves Herman
Seiring perkembangan teknik dan angkatannya, uang saku Eko terus bertambah. Padahal latihan itu ia lakukan di tengah aktifitas sekolah dan menggembalakan kambing tetangganya.
"Sering dulu kambing saya tinggalkan saja di lapangan, dan saya tinggal berlatih," kata dia mengenang masa mudanya. Tak jarang saat ia pulang, kambing sudah tak ada dan ia harus berkeliaran lebih lama untuk mencarinya.
Setahun berlatih, buah kerja keras dan latihan Eko mulai menunjukkan hasil. Eko dikirim ke Indramayu, Jawa Barat, untuk mewakili Kalimantan Selatan di kejuaraan nasional tingkat remaja. Di sana ia menyumbang emas di nomor 35 kilogram.
Sejak saat itu, Eko terus berkembang hingga pada 2006 ia dipanggil ke pelatnas. Dukungan dari orang tua pun terus mengalir setelah pelatih menjelaskan potensi dan minat Eko di cabang olahraga itu.
Setelah berhasil menyumbang emas di nomor 56 kilogram pada SEA Games 2007 di Thailand, nama Eko mulai dikenal di tingkat internasional. Ia pun mampu tampil konsisten dan selalu menyumbang medali di tiap kejuaraan.
Eko Yuli Irawan gagal meraih emas dan harus puas dengan preak di SEA Games 2017.
Puncaknya, pada 2012 ia menyumbang perunggu di Olimpiade London dan pada 2014 menyumbang perak di Kejuaraan Dunia di Kazakhstan. Saat itu Eko telah naik dari nomor 56 kilogram ke 62 kilogram.
Di Olimpiade Rio de Janeiro Brasil, Eko kembali menyumbang medali, kali ini ia berhasil merebut perak. Sayang di SEA Games 2017 di Kuala Lumpur Malaysia, Eko yang menjadi salah satu tumpuan, harus kalah dari lifter Vietnam dan hanya meraih perak.
Eko merupakan anak pertama dari Saman dan Wastiah. Ia memiliki dua adik. Adik pertamanya, saat ini ikut menjadi atlet dan mewakili Kalimantan Timur. Pada 2011, ia menikahi atlet angkat besi lain, Masitoh, yang menyumbang perunggu di SEA Games 2011 di Jakarta - Palembang. Mereka saat ini telah dikaruniai seorang anak perempuan.
Meski telah lama berkecimpung di dunia angkat besi, belum ada niatan bagi Eko untuk pensiun. Ia mengatakan masih ingin bertanding untuk beberapa tahun ke depan, bahkan setelah Asian Games 2018. "Target saya (bertanding) di Olimpiade 2020 (di Tokyo)," kata Eko Yuli Irawan.
EGI ADYATAMA