Sport, Jakarta - Lifter Eko Yuli Irawan Ingin meminta agar pemerintah lebih serius dalam memperhatikan asupan nutrisi dan gizi bagi para atlet Asian Games 2018. Selama ini, Eko mengatakan hal itu terkesan tak serius diurus dan mengakibatkan kondisi atlet tidak fit saat bertanding.

Hal ini, kata Eko, terjadi pada persiapan SEA Games 2017 lalu. "Tiga minggu sebelum berangkat SEA Games itu kami kena diare, hampir semua atlet. Mungkin saat itu karena makanan di hotel," kata Eko saat ditemui di rumahnya di daerah Bekasi Selatan, Selasa, 19 September 2017.
 
Lifter kelahiran Lampung itu mengatakan meski tak serentak, namun serangan diare dan panas dingin badan menyerang hampir seluruh atlet dan beberapa pelatih. Eko terkena serangan panas dingin dan harus rehat total selama seminggu.

Baca: Asian Games 2018: Menpora Ingin Pelatnas Terpusat di Cibubur
 
Alhasil, meski sudah lebih fit saat pertandingan, Eko mengatakan gagal menunjukkan performa puncaknya di SEA Games kemarin. "Mungkin kalau keadaannya tidak sakit, saya bisa lebih siap. Kalau kemarin ya hasilnya jadi seadanya" kata pria kelahiran 24 Juli 1989 itu.
 
Di nomor 62 kilogram andalannya, Eko akhirnya harus mengakui keunggulan lifter Vietnam dan harus puas dengan raihan perak. Hasil ini sekaligus menghentikan tradisi emas di nomor ini dari tiga SEA Games terakhir.

Eko mengatakan tak menyalahkan sakit yang dideritanya. Namun ia mengatakan hal tersebut sebenarnya bisa dihindari jika persiapan dan pengawasan nutrisi dan gizi para atlet benar-benar diawasi.
 
"Kita minum hanya suplemen pengganti makan dari sponsor yang diusahakan PB. Tapi kan di samping itu kita butuh vitamin penunjang otot agar besok siap latihan lagi, itu masih sangat kurang. Apa yang kita butuhkan memang belum terpenuhi," kata Eko.

Baca: Asian Games 2018: Eko Yuli Irawan Beli Alat Sendiri untuk Latihan

Manajer tim angkat besi Alamsyah Wijaya, mengatakan sejak bulan Januari 2017, uang akomodasi bagi para atlet memang belum turun sama sekali. Alhasil, Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi dan Binaraga Seluruh Indonesia (PB PABBSI) harus menalangi ongkos hotel dan makan atlet selama ini.
 
Alamsyah menyayangkan tak adanya perhatian dari pemerintah terhadap cabang prioritas ini. "Fasilitas pendukung gak ada. Recovery medic gak ada di situ, kami harus cari di luar dengan biaya sendiri. Sedangkan minta lewat (Satlak) prima prosesnya lama," kata Alamsyah saat dihubungi Tempo beberapa waktu lalu.

Kemenpora sendiri mengatakan memang ada 14 cabang olahraga di SEA Games yang belum menyelesaikan masalah administrasi. Hal itu berdampak pada belum turunnya biaya akomodasi mereka.

Baca: Asian Games 2018: Kemenpora Berencana Naikkan Honor Pelatnas
 
"Karena cabang olahraga itu belum memberikan rincian penggunaan dana yang dihabiskan," ujar Plt Deputi 4 Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Yuni Poerwanti. Meski begitu, Yuni belum dapat memastikan apakah cabang olahraga angkat besi, adalah salah satu dari 14 cabang yang ia maksud.

Eko pun berharap kondisi ini tidak terulang ke persiapan Asian Games 2018 mendatang. Apalagi sebagai tuan rumah, Indonesia harus lebih siap. Masalah akomodasi atlet ia harapkan tak kembali terulang.

EGI ADYATAMA