Nasional, Bandung - Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kelas 1 Bandung Yuni Yulianti membenarkan dalam sepekan terakhir ini temperatur udara di wilayah Bandung Raya lebih panas dari biasanya.

”Dari awal September ini, untuk suhu maksimumnya ada tren meningkat. Salah satunya ada kaitannya dengan gerak semu matahari yang berada di sektiar katulistiwa,” kata dia saat dihubungi Tempo, Selasa, 19 September 2017.

Yuni mengatakan, rata-rata suhu udara siang hari di Bandung Raya pada sepekan terakhir berkisar 31 derajat Celsius sampai 32 derajat Celsius. “Untuk temperatur maksimum tertinggi terjadi kemarin tanggal 17 September 2017 it di 33,4 derajat Celsius,” kata dia.

Menurut Yuni, kendati temperatur maksimum yang terjadi sudah terhitung tinggi, tapi masih belum mengalahkan rekor temperatur siang hari yang pernah terjadi di Bandung Raya. Dalam 30 tahun terakhir rekor suhu panas siang hari tertinggi terjadi pada September 1990. “Saat itu suhu absolut maksimumnya 39,8 derajat Celsius,” kata dia.

Yuni mengatakan, suhu siang hari tertinggi dalam 30 tahun terakhir selalu terjadi di sektiar September-Oktober bersamaan dengan musi kemarau. “Kalau suhu minimumnya sejak awal September ini masih dalam kisaran normal antara 17 derajat Celsius sampai 20 derajat Celsius,” kata dia.

Menurut Yuni, potensi terjadinya temperatur siang hari yang panas masih berpontensi terjadi hingga akhir bulan ini. Siang makin terasa panas juga disumbangkan oleh kelembaban udara yang rendah. “Masih ada potensi untuk suhu maksimum di atas 30 derajat Celsius,” kata dia.

Yuni mengatakan, potensi temperatur rendah terjadi di wilayah Bandung Raya. Sementara untuk udara panas siang hari relatif merata, kecuali di wilayah Pantai Utara Jawa Barat dengan kecenderungan temperatur lebih panas dibandingkan wilayah lainnya. “Kalau temperatur maksimumnya di bagian utara meliputi Cirebon, Kuningan, Majalengka itu lebih tinggi dibandingkan di wilayah lain di Jawa Barat, temperatur rata-ratanya sekitar 33-34 derajat Celsius,” kata dia.

Saat siang hari dengan temperatur udara yang relatif panas tersebut, dia menyarankan agar warga mengurangi aktivitasnya di luar ruangan. “Minum ari putih cukup, untuk mencegah dehidrasi karena potensi suhu panas maksimum di siang hari masih ada,” kata Yuni.

BMKG memperkirakan musim kemarau berakhir di awal Oktober 2017. Kendati demikian, potensi hujan ringan dengan durasi singkat masih mungkin terjadi. “Dinamika atmosfer masih normal untuk tahun ini. Belum ada tanda-tanda fenomena global El Nino atau La Nina. Kategori musim kemaraunya masih normal di Jawa Barat dan Indonesia pada umumnya,” kata Yuni.

AHMAD FIKRI