Gaya, Jakarta - Satu artikel tentang Kapan Sebaiknya Diskusi Poligami Dengan Anak
Lucunya, adalah saat pertama kali dia menggunakan akun pria, sama sekali tidak ada tanggapan. Tapi, ketika daftar dengan akun perempuan, bermodal kutipan religius dan foto asal, dalam 20 menit ada 20 orang yang berkunjung ke akunnya dan tiba-tiba sudah banyak punya teman. “Rupanya ‘pertemanan’ tidak memerlukan persetujuan dari pemilik akun,” tulisnya.
Elma mengaku kaget, karena sebelumnya dia telah mencoba beberapa aplikasi kencan daring seperti OK Cupid dan Tinder, tapi baru kali ini kotak pesannya dipenuhi notifikasi. “Mereka adalah para ikhwan yang ngebet untuk mencari madu bagi istrinya. Beberapa adalah para suami yang jujur mengakui bahwa mereka ada di situ tanpa sepengetahuan istri mereka,” tulisnya lagi.Ada juga yang menulis pesan begini : “Mbak siap dipoligami dengan nikah siri dan dirahasiakan?” Elma hanya tertawa miris.
Geram, geli bergantian dirasakan Elma saat menjelajah aplikasi tersebut. “Saya jadi tidak yakin semua perempuan ini memang berniat dimadu atau mencari ‘imam’, mungkin banyak dari mereka hanya iseng seperti saya,” katanya.
Elma pun menghapus akunnya pada malam kedua menjadi anggota. “Mual,” Katanya.
Mual juga sepertinya dialami para komentator artikel tersebut, hampir semuanya mencibir. Di antaranya: Melissa yang menulis : Syahwat berkedok agama. Poligami bukan sesuai anjuran Nabi u/ menikahi janda2 tua & tdk mampu, tapi krn urusan ranjang. Meh!
Tapi ada juga yang berkomentar agak lain: mana sich yg lebih baik poligami sbg pelampiasan nafsu, atau selingkuh sebagai pelampiasan nafsu atau pada pergi ke lokalisasi sbg pelampiasan nafsu atau pergaulan bebas sbg pelampiasan nafsu..... wech..wech..logika terbolak-balik atau komen pada baper nich.
Anda punya komentar apa?
SUSAN