Dunia, Jakarta - Serikat dagang nomor dua terbesar Inggris, Unison, mengatakan menunda pemberian penghargaan kepada Aung San Suu Kyi terkait krisis kemanusiaan yang dialami warga etnis Prihatin Rohingya, Inggris Tunda Latihan Militer dengan Myanmar
Unison meminta Suu Kyi untuk melakukan upaya ekstra untuk membantu perjuangan warga etnis Rohingya, yang mengalami penindasan militer Myanmar. Seperti diberitakan, militer Myanmar dan kelompok ekstrimis Buddha melakukan pembersihan etnis terhadap warga Rohingya dengan membakar rumah dan desa tempat tinggal etnis ini di negara bagian Rakhine. Mereka juga menyerang dan membunuh banyak warga desa, termasuk melakukan pelecehan seksual kepada kaum wanita Rohingya.
Baca: Wawancara, Marzuki: Pencari Fakta PBB Belum Bisa Masuk Myanmar
Langkah ini diambil Unison dan sejumlah institusi Inggris termasuk militer dengan mengkaji kembali kerja sama atau rencana pemberian penghargaan kepada Suu Kyi terkait perjuangannya menegakkan demokrasi melawan junta militer Myanmar.
Universitas Bristol, salah satu dari sejumlah universitas yang menganugerahkan gelar kehormatan kepada Suu Kyi terkait posisinya sebagai oposisi, mengatakan pihak kampus mengkaji ulang pemberian gelar itu.
Ini dilakukan terkait munculnya tudingan pelanggaran Hak Asasi Manusia oleh militer Myanmar. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan tindakan militer Myanmar dan kelompok milisi ekstrimis Buddha terhadap warga etnis Rohingya sebagai pembersihan etnis yang sangat jelas (textbook example of ethnic cleansing).
“Pihak kampus berbagai keprihatinan bersama terhadap situasi yang terus terjadi di Myanmar,” kata juru bicara kampus Bristol kepada Guardian.
“Pada 1998, kami menganugerahkan gelar kehormatan doktor bidang hukum kepada Dr Aung San Suu Kyi, yang saat itu memimpin perlawanan untuk memperjuangkan hak asasi manusia dan demokrasi di Burma yang sekarang jadi Myanmar.”
Juru bicara ini mengatakan pihak kampus belum mencabut gelar itu karena masih terus memonitor situasi yang terjadi saat ini di Myanmar.
Sedangkan senat mahasiswa London School of Economics mengatakan akan mencabut gelar presiden kehormatan bagi Suu Kyi.
“Kami akan mencopot gelar presiden kehormatan Aung San Suu Kyi sebagai simbol oposisi kami terhadap posisinya saat ini dan sikap diamnya ditengah terjadinya genosida,” kata Mahatir Pasha, sekretaris jenderal Senat Mahasiswa London School of Economics.
Selama 30 tahun terakhir, Suu Kyi telah mendapat sejumlah gelar kehormatan dari banyak universitas di Inggris termasuk Glasgow, Bath, dan Cambridge. Sejumlah kota juga memberikan penghargaan ini.
Dewan Kota Oxford mengumumkan mereka mempertimbangkan mengcopot penghargaan Kebebasan Kota Oxford yang diberikan kepada Suu Kyi pada 1997. Ini bakal dilakukan pada pertemuan berikutnya.
“Jika tidak ada yang berubah, saya kira dewan kota Oxford akan mencopot gelar kehormatan itu,” kata John Tanner kepada Oxford Mail.
Suu Kyi memiliki hubungan dekat dengan kota Oxford karena pernah belajar di St Hugh’s College sebagai mahasiswa strata satu pada 1960. Suaminya, yang telah meninggal, Michael Aris, merupakan salah satu pengajar di kampus ini.
Suu Kyi juga pernah memenangkan penghargaan internasional hadiah Nobel perdamaian pada 1991. Meskipun dilarang junta militer untuk maju sebagai calon Presiden, dia memenangkan dukungan publik. Suu Kyi saat ini menjabat sebagai state consellor atau semacam perdana menteri. Ketegasannya menghadapi kasus pembersihan etnis Rohingya oleh militer Myanmar ditunggu dunia internasional.
GUARDIAN | BUDI RIZA