Bisnis, BANDUNG — Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan, Indonesia membutuhkan lebih dari 500 medium tank, produk baru buatan bersama PT Pindad dan FNSS Turki. “Kita harapkan tank lama diganti. Kita ada beberapa batalion, sayalupa lagi, tapi yang jelas kita memerlukan di atas 500 tank,” kata dia di sela sarasehan industri strategis di PT Pindad, Bandung, Senin, 18 September 2017.

Ryamizard mengatakan, pada tahap pertama, pemerintah akan memesan 100 unit. “Tahap awalnya 1 dulu (prototipe). Nanti kalau sudah, untuk kemudian jelas paling tidak 2 batalion, 1 batalion itu 50-an (tank) biasnaya. Sekitara 100-an (unit),” kata dia.

Simak: Bangun Industri Pertahanan, Panglima TNI: Perlu Relokasi Lahan

Menurut Ryamizard, anggaran pembelian itu sudah tersedia. Diantaranya berasal dari pinjaman dalam negeri yang disiapkan pemerintah untuk pembelian alutsista dalam negeri oleh Kementerian Dalam Negeri yang dalam lima tahun ini disediakan Rp 15 triliun. “Dari Rp 15 triliun itu sudah Rp 9 triliun dipakai. Pinjaman dalam negeri itu, masih 2 tahun lagi sampai 2019,” kata dia.

Ryamizard mengatakan, pemerintah akan menggunakan alutsista yang bisa dibuat di dalam negeri. “Pokoknya apa yang bias kita buat, kita tidak perlu beli (dari luar negeri) lagi,” kata dia. Selain program tank medium misalnya, pemerintah tengan mendorong industri pertahanan membuat roket dan radar.

Medium tank yang dibuat bersama Pindad dan FNSS Turki itu dinilainya paling pas untuk Indonesia. “INi untuk tank, ini paling baik di sini. Kalau yang besarnya, Leopard, kalau di bawa ke Sumatera itu ambrol jembatannya. Kalau musuh mau ke sini juga, dia tidak akan bawah (tank besa), dia tidak bisa jalan di sini. Kalau yang ini (medium tank), bagus,” kata Rmayzard.

Ryamizard mengatakan, bobot tank medium 37 ton dinilainya ideal. “Kalua Leopard itu 150 ton. Saya rasa yang medium ini palign tepat untuk Indonesia. Keadaan medannya, apalagi di Sumatera dengan di Jawa, jembatannya tidak mampu di lintasi oleh (kendaraan dengan bobot di atas) 40 ton,” kata dia.

Satu unit medium tank, dari 2 unit prototipe yagn disiapkan oleh Pindad dan FNSS Turki itu akan hadir dalam perayaan Hari Ulang Tahun 5 Oktober. Rymamizard sengaja berkunjung ke Pindad untuk menyaksikan kesiapan bagian turet tank medium itu yang tengah dibuat di pabrik senjata di Bandung itu. “Saya lihat turetnya sudah jadi,” kata dia. “Berikutnya kalau sudah pas, sudah bagus emua, nanti akan diproduksi di sini semua.”

Direktur Utama PT Pindad Abraham Mose mengatakan, nilai kontrak kerjasama Pindad dan FNSS Turki membuat 2 prototipe itu Rp 300 miliar. “Pemerintah Indonesia punya share Rp 150 miliar. Jadi separuh-separuh, 50 persen-50 persen,” kata dia di Bandung, Senin, 18 September 2017.

Separuh saham itu pembuatan prototipe itu membuat Indonesia punya hak untuk memproduksi masal tank buatan bersama Turki tersebut. Abraham mengatakan, pemerintah Indonesia sudah menyiapkan pemesanan tank itu mulai tahundepan. “Kalau dalam rencana TNI itu tahun depan sudah ada (pemesanan),” kata dia.

Abraham mengatakan, tahun depan baru rampung prototipe tank itu, sehingga untuk memasuki fase produksi masal tersebut Pindad akan menggandeng pihak ketiga. “Kita harus lakukan ‘strategic-partnership’, bisa dengan FNSS atau dengan yang lain-lain yang siap, yang punya kelas di tank yang sejenis,” kata dia.

Menurut Abraham, kebutuhan TNI sendiri untuk tank medium itu menembus 300 unit. “Pak Menteri sudah sampaikan di tahun pertama itu 100 unit. Tetapi harganya berapa? Harga jual berapa, dari kita yang belum keluar,” kata dia.”Kalau bisa dapat kontrak multiyears, 2 tahun bisa diselesaikan.”

Abraham mengatakan, soal harga itu masih menunggu kepastian pihak ketiga yang akan digandeng untuk memproduksi tank itu di tahap pertama. “Karena pertama kita tidak bisa sendiri karena baru menyelesaikan prototiping. Kita harus bekerjasama. Dengan siapa, kita akan tetapakan nanti,” kata dia.

Kendati demikian, dia menargetkan harga jualnya bisa lebih murah ketimbang tank medium di kelas yang sama seperti tank produksi Korea Selatan. “Harga jual kita lagi coba simulasi. Paling tidak, mirip-mirip dengan yang punya Korea,” kata Abraham. “Kita turun-turun sedikit. Paling tidak, kompetitif. Artinya kita bisa menjual untuk kebutuhan dalam negeri juga.”

Abraham mengatakan, satu unit sudah rampung dan saat ini tengah dikirim ke Indonesia untuk dihadirkan dalam perayaan Hari Ulang Tahun TNI 5 Oktober 2017. Tank tersebut akan dipasangi turet yang disiapkan Pindad. “Prototipe kedua masih harus dibuat di isni, tapi menunggu ‘blasting test’, tes ledakan, yang akan dilakukan di Indonesia,” kata dia.

Menurut Abraham, tes ledakan itu untuk memastikan turet yang dibuat tersebut aman. “Apa terjadi perubahan deformasi yang terjadi? Baru kita akan melakukan prototiping kedua sehingga betul-betul sempurna,” kata dia.

Dia mengklaim, medium tank buatan Pindad dan FNSS Turki itu tidak kalah dengan tank sejenis buatan negara lagin. “Ini lebih kecil dari Leopard. Tapi kemampuannya sama dengan Main Battle Tank, tapi ini medium.  Turettnya sudah canon 105 milimeter, kemudian 12,7 milimeter. Radio sudah dilengkapi dengan Battle Management System, armor. Saya pikir sudah cukup,” kata dia.

Abraham mengatakan, penamaan medium tank itu akan diminta pada Presiden Joko Widodo. “Nanti kita akan minta Presiden atau Menteri (Pertahanan) untuk memberikan nama. Itu nanti sudah nama Indonesa,” kata dia.

Direktur Pertahanan Dan Keamanan, Bappenas, Wisnu Utomo mengatakan, di era pemerintahan Presiden Joko Widodo ini Bappenas mengalokasikan pinjaman dalam negeri untuk program alutsista Kemnterian Pertahanan Rp 15 triliun dalam lima tahun. “Periode pertama Rp 4 trilin. Realisasinya cukup bagus, sehingga pada tahap pemeritahan Joko Widodo ini kami mengalokasin Rp 15 triliun. Jadi bisa dibilang 4-5 kali lipat dari lima tahun sebelumnya,” kata dia, Senin, 18 Sepmteber 2017.

Wisnu megnatakan, di tahun ketiganya pinjaman itu mayoritas baru dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan TNI Angkatan Darat. “Hampir selesai malah. Hanya ada permasalahan di TNI AU dan AL. Kalua ini tidak tercapai, apakah perlu dilakukan revisi terhadap alokasi yang sudah disiapkan,” kata dia.

 

 

 

AHMAD FIKRI