Dunia, Jakarta - Tentara Bangladesh telah diperintahkan untuk mengambil peran lebih besar membantu ratusan ribu etnis Ratusan Orang Blokir Bantuan Palang Merah untuk Rohingya
Obaidul Quader, menteri senior dan Wakil ketua partai Liga Awami yang berkuasa mengatakan bahwa tentara akan membantu membangun tempat penampungan dan toilet untuk ribuan pengungsi yang masih tidur di tempat terbuka di tengah guyuran hujan lebat.
"Kehadiran tentara sangat dibutuhkan untuk membangun tempat penampungan, yang merupakan tugas yang sangat berat, dan menjamin sanitasi," kata Quader, seperti yang dilansir Channel News Asia pada 21 September 2017.
Quader menjelaskan perintah itu datang dari Perdana Menteri Sheikh Hasina.
Baca: Fakta Rinci Soal Milisi Rohingya, ARSA, Pemberontak atau Teroris?
Tentara juga akan memastikan keteraturan dan membantu proses penyaluran bantuan, setelah sebelumnya hiruk pikuk dan kekacauan terjadi saat badan amal melempar makanan dan kebutuhan pokok lainnya dari truk pengangkut.
Sebelumnya, pasukan telah ditugaskan untuk mengangkut bantuan asing dari kota pelabuhan Chittagong ke Cox's Bazar dimana kamp-kamp yang penuh sesak berada.
Bangladesh pun mengumumkan akan membuka lokasi baru yang mampu menampung sekitar 400.000 pengungsi dalam waktu 10 hari.
Pompa air ekstra telah dipasang di beberapa lokasi, dan beton untuk toilet telah didirikan di pinggir jalan.
Tapi seiring adanya tanda-tanda pekerjaan konstruksi besar yang sedang berlangsung, banyak pengungsi mengeluh bahwa mereka diperintahkan untuk terus maju tanpa tahu ke mana harus pergi.
"Kami tidak tahu ke mana kami pergi. Kami miskin. Kami membeli bambu dan terpal dengan bantuan rakyat, dan sekarang saya harus pindah lagi," kata Mujibur Rahman, pria Rohingya berusia 48 tahun.
Pemerintah Bangladesh telah mencoba untuk menggiring para pengungsi ke daerah-daerah yang ditentukan, khawatir kota-kota terdekat bisa terbebani jika tidak diberi tanda.
Pemerintah setempat telah menyiapkan selusin pusat bantuan dan beberapa dapur darurat untuk merampingkan distribusi bantuan.
Baca: Suu Kyi Pidato Krisis Rohingya, Ini Tanggapan 6 Tokoh Myanmar
Keterpurukan pengungsi Rohingya diperparah dengan adanya hujan lebat yang membanjiri kamp pengungsi Balukhali di Cox's Bazar, Bangladesh, sejak 19 September 2017. Cox's Bazar telah diterjang dengan curah hujan 21,4 sentimeter dalam lima hari terakhir, menimbulkan ketakutan akan tanah longsor di perbukitan yang tidak stabil dan berlumpur tempat ribuan pengungsi Rohingya berkemah.
Ratusan pengungsi Rohingya terpaksa meninggalkan gubuk mereka kemarin di sebuah perkebunan karet setelah hujan lebat membanjiri daerah tersebut.
"Kemah saya telah terbanjiri air setinggi lutut. Anak-anak menderita flu," kata Nur Mohammad, seorang pria Rohingya berusia 62 tahun yang tiba di Bangladesh bersama 16 anggota keluarganya.
Rohingya, yang sebagian besar beragama Islam, telah mengalami penganiayaan oleh banyak orang di Myanmar yang mayoritas beragama Buddha.
Kepala hak asasi manusia PBB telah menggambarkan serangan sistematis terhadap minoritas Rohingya oleh pasukan keamanan Myanmar sebagai contoh pembersihan etnis.
Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi mengataka pihaknya akan mengambil kembali pengungsi Rohingya yang telah diverifikasi. Namun menurut Menteri informasi dan komunikasi Bangladesh Hasanul Haq, pidato Suu Kyi tidak menyajikan gambaran sebenarnya situasi Rohingya.
CHANNEL NEWS ASIA|YON DEMA