Nasional, Bandung- Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Gede Suantika mengatakan, skenario letusan 3 Langkah BNPB Tangani Gunung Agung

PVMBG memberikan rekomendasi agar warga tidak beraktivitas dalam radius 6 km dari puncak Gunung Agung, atau pada elevasi 950 meter di atas permukaan laut, ditambah perluasan sektoral untuk arah Utara, Tenggara, dan Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 kilometer. “Kita referensinya, acuannya letusan Gunung Agung tahun 1963,” kata Gede.

Gede mengatakan, rekomendasi yang diterbitkan itu misalnya sudah berdasarkan skenario letusan yang terjadi 1963 itu. “Pada letusan pertama itu, proyektil material yang dilontarkan sejauh 6 kilometer. Awan panas baru muncul dekat-dekat sekitar 5 kilometeran,” kata dia.

Menurut Gede, areal rekomendasi yang diberlakukan dalam status Siaga (Level III) ini sudah cukup untuk mengantisipasi letusan tiba-tiba Gunung Agung. “Di luar daerah rekomendasi itu aman,” kata dia.

Saat letusan pada 1963 itu, erupsi yang terbesar baru terjadi sebulan kemudian. “Setelah itu, sebulan kemudian terjadi letusan besar-besaran. Dan awan panas terbentuk,” kata Gede.

Gede mengatakan, letusan Gunung Agung di Bali pada 1963 itu terjadi selama setahun, sejak 18 Februari 1963, dan berakhir pada 27 Januari 1964. “Gunung Agung setahun meletusnya, sama dengan Gunung Galunggung waktu itu meletus setahun lebih,” kata dia.

Taksiran material yang akan dihasilkan letusan yang mungkin terjadi dalam waktu dekat pun diperkirakan mirip dengan yang terjadi pada letusan Gunung Agung pada 1963. Volume yang dilontarkan saat erupsi 1963 misalnya menembus 0,84 kilometer kubik. “Itu terdiri dari volume pasir, batu, itu hitungannya kalau terjadi erupsi,” kata Gede.

Gede mengatakan, tren intenstas kegempaan Gunung Agung sejak statusnya dinaikkan menjadi Waspada pada 14 September 2017 itu terus naik. Pada 14 September, jumlah gempanya 6 kali, pada 15 September menjadi 26 kali, pada 16 September naik 72 kali, pada 17 September bertambah menjadi 134 kali dalam sehari, dan pada 18 September 2017 terjadi 363 kali gempa vulkanik akibat aktvitas gunung itu. “Tanggal 19 September hingga sore, lajunhya agak menurun, tapi masih naik terus,” kata dia.

Kepulan asap solfatara juga sudah terpantau. “Dulu tidak pernah ada. Kemudian, pemantauan satelit cuaca ada Hotspot. Menandai ada anomali kenaikan suhu di dasar kawah,” kata Gede.

Koordinasi sudah dilakukan dengan aparat pemerintah daerah setempat mulai dari kecamatan hingga pemerintah Kabupaten Karangasem, provinsi Bali, hingga BNPB. “Bupati Karangasem sudah menandatangani surat penetapan Tanggap Darurat selama 14 hari sejak kemarin karena saat status Siaga (Level III) ini sudah ada pengungsian,” kata Gede.

Gede mengatakan, pengungsian itu berasal dari warga yang menghuni di lereng Gunung Agung yang berada di areal yang harus dikosongkan. “Ada banyak kampung di lereng barat daya dan selatan Gunung Agung,” kata dia. Titik kumpul pengungsian warga tersebar. “Ada yang dilereng selatan, ada yang di Karangasem, Klungkung, ada yang ke Rendang. Itu titik kumpulnya.” 

Menurut Gede, otoritas penerbangan juga sudah diperingatkan agar mewaspadai Gunung Agung yang berpotensi terjadi erupsi tiba-tiba. “Skenario letusannya tiba-tiba, jadi dikasih warning dulu. Tapi intinya, erupsi belum terjadi,” kata dia.

AHMAD FIKRI