Metro, Bekasi - Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang diproyeksikan hanya bisa bertahan 10 tahun ke depan. Proyeksi itu diyakini bakal terbukti jika sampah hanya ditumpuk saja tanpa ada pengolahan. “Sampah dari Jakarta itu sehari mencapai 7.000 ton,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis TPST Bantargebang pada Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto, Kamis, 21 September 2017.

Menurut Asep, dibutuhkan teknologi untuk mengolah sampah dari Jakarta itu. Teknologi yang tengah diusahakan saat ini adalah sistem sanitary landfill. "Kalau pakai sistem ini bisa bertahan sampai 2032," kata Asep. 

Pengolahan dengan sanitary landfill ini membutuhkan tanah uruk atau cover soil guna melapisi tumpukan sampah. Pemerintah DKI telah menyiapkan anggaran sekitar Rp 13 miliar untuk pengadaan tanah uruk."Proses pengadaan masih dilelang," kata Asep.

Selain cover soil, kata Asep, Dinas Kebersihan juga sedang melelang pengadaan geomembran. Pengadaan alat penutup sampah itu diperkirakan mencapai Rp 15 miliar. Geomembran ini nantiya dugunakan untuk menutup gunungan sampah agar terhindar dari hujan. "Gunungan sampah itu isinya air dan gas," kata Asep.

Baca: DPRD Bekasi Nilai Pengelolaan TPST Bantargebang Alami Kemunduran

Saat ini tinggi gunungan sampah di Bantargebang mencapai 20-25 meter. Dengan geomembran diyakini gunungan itu bakal menyusut dengan sendirinya karena tak terkena hujan. Sehingga pengambilan gas metana untuk diolah menjadi listrik bisa maksimal. "Kami optimis semua kebutuhan material untuk pengolahan sampah tersebut selesai akhir tahun ini," kata Asep.

Dalam pengolahan sampah, Asep menambahkan, pemerintah DKI berencana membangun intermediate treatment facility (ITF) di sejumlah lokasi. Salah satunya di Sunter, Jakarta Utara. "Kalau ITF sudah jadi, otomatis sampah tak lagi dibuang ke Bantargebang," kata dia. "Pembangunan ITF masih tahap seleksi, karena permohonan dari investor mencapai 200 proposal."

Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bekasi Ariyanto Hendrata geram dengan kondisi TPST Bantargebang saat ini. Dia menilai pengelolaan saat ini tak lebih baik ketimbang dikelola oleh swasta sebelumhnya. "Malah mengalami kemunduran," kata dia.

Ariyanto mencontohkan, ketika masih dipegang swasta pengolahan sampah menggunakan sistem sanitary landfill, meski tergolong tradisional, sistem tersebut mengurangi dampak bau sampah. "Sekarang malah open dumping, ini lebih buruk dari sebelumnya," katanya. Sebab aroma busuk sampah Jakarta itu justru semakin meluas.

ADI WARSONO