Otomotif, Jakarta - Mesin merupakan bagian vital dari sebuah mobil. Karena itu mesin memerlukan perawatan yang baik. Paling tidak, mengikuti anjuran yang tertuang dalam buku service kendaraan. Nah, masalahnya, tidak semua pemilik kendaraan begitu aware dengan masalah perawatan mesin mobil ini.

Ada yang hanya memakainya saja, tapi lupa melakukan perawatan. Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus, mesin mobil akan mengalami kerusakan. Bukan tidak mungkin mobil harus ‘rawat inap’ di bengkel dan turun mesin.

Jimmy Lukita, pemilik bengkel AFJ Motorsport, di Jalan Basuki Rahmat 1 No 40, Pondok Bambu, Jakarta Timur, menjelaskan beberapa faktor yang dapat mengakibatkan turun mesin pada mobil.

Baca: Mesin Mobil Bermasalah, Simak Gejalanya

Pertama dari temperatur. Bisa saja sebuah mobil memiliki cooling sistem (radiator dan fan atau kipas) yang tidak maksimal. Turun mesin bisa disebabkan radiatornya bocor, fannya mati, kemudian temperatur naik. Lalu jalur airnya sudah tidak benar, terutama di bagian Water Pump.

Kedua, dari segi mesin. Menurut Jimmy yang merupakan pembalap nasional ini, mobil yang mempunyai kompresi tinggi dari pabrik, memerlukan misalnya bahan bakar dengan oktan 95 atau 92, tapi dipaksakan memakai bahan bakar beroktan di bawah standar pabrik yang disarankan.

Mobil-mobil sekarang sudah memiliki knocking sensor. Knocking sensor adalah sensor anti ngelitik, yang timing sensornya dapat dimundurkan secara otomatis, supaya mesin tidak cepat rusak.

Simak: Koil Mobil Rusak dan Penanganannya

Hanya saja, lanjut Jimmy, kalau lama-lama dipaksakan, karbon di ruang bakar akan menumpuk. Apalagi jika mobil dipakai di jalanan macet, karbon akan menumpuk di ruang bakar. Dengan penumpukan karbon, otomatis ruang bakar volumenya menjadi lebih kecil.

“Volume yang mengecil ini membuat kompresi semakin lebih tinggi. Akhirnya lama-lama knocking sensor mesin tidak maksimal dan jika dipakai terus dalam jangka waktu lama mobil menjadi cepat rusak,” ujarnya.

Proses pembakaran pada mesin yang tidak tepat pada waktunya (detonasi) dan tidak terdeteksi knocking sensor dapat merambat ke piston. Akibatnya, piston akan mengalami kerusakan yang menyebabkan kompresi menjadi lemah. Selanjutnya, oli naik ke ruang bakar karena posisi oli berada di bawah dan tidak boleh naik ke ruang bakar.

Akibatnya mesin tidak ada kompresi. Tenaga mobil hilang. Olinya naik ke ruang mesin dan ikut terbakar. Oli mobil lama-lama akan berurang hingga habis. Inilah yang pada akhirnya membuat mobil harus turun mesin.

Masih menurut Jimmy, hal paling berbahaya apabila ruang bakar sudah longgar menyebabkan bensin yang mengalir ke ruang bakar ikut turun ke bawah (ruang oli). Sebenarnya fungsi piston itu menjaga bensin tidak masuk campur dengan oli.

"Bisa terbayang oli tercampur dengan bensin, jadi sudah tidak ada lubrikasi lagi, oli menjadi encer, ya hancurlah itu mesin," kata Jimmy. "Mesin menjadi hancur tidak secara lansung, pelan-pelan, tergantung seberapa lama mobil itu digunakan.”

GRANDY AJI