Nasional, Jakarta - Dipa Nusantara Aidit atau Cerita Repotnya Memerankan Aidit di Film G 30 S PKI

Seperti dituliskan dalam Edisi Khusus Majalah Tempo terbit 1 Oktober 2007, ayah Mailan-- kakek Aidit-- adalah  seorang tuan tanah. Orang-orang Belitung menyebut luas tanah keluarga ini dengan ujung jari: sejauh jari menunjuk itulah tanah mereka. Adapun Abdullah Aidit adalah anak Haji Ismail, pengusaha ikan yang cukup berhasil. Aidit sendiri dinamai Achmad Aidit.

 


EKSKLUSIF G30S 1965: Pengakuan Penyergap Ketua CC PKI Aidit

 

Tapi seorang bekas wartawan Harian Rakjat, koran yang berafiliasi dengan PKI, menangkap kesan lain tentang Aidit.  Aidit, katanya, bukan orang yang mudah didekati. Tegang dan tak ramah. Arifin C Noer, sutradara film itu memotret Aidit sebagai lelaki penuh muslihat, pengiat partai yang dingin, bahkan juga garing.

Tapi Aidit memang liat berpolitik.  Karir politiknya ditapaki di asrama mahasiswa Menteng 31—sarang aktivis pemuda ”radikal” kala itu. Bersama Wikana dan Sukarni, ia terlibat peristiwa Rengasdengklok—penculikan Soekarno oleh pemuda setelah pemimpin revolusi itu dianggap lamban memproklamasikan kemerdekaan.

EKSKLUSIF G30S: Sebelum Didor Aidit Minta Rokok ke ...

Dalam kongres partai setahun sebelum pemilu, Aidit berpidato tentang ”jalan baru yang harus ditempuh untuk memenangkan revolusi”. Dipa Nusantara bercita-cita menjadikan Indonesia negara komunis. Ketika partai-partai lain tertatih-tatih dalam regenerasi kader, PKI memunculkan anak-anak belia di tampuk pimpinan partai: D.N. Aidit, 31 tahun, M.H. Lukman (34), Sudisman (34), dan Njoto (27).

Tapi semuanya berakhir pada Oktober 1965, ketika Gerakan 30 September gagal dan pemimpin PKI harus mengakhiri hidup di ujung bedil. DN Aidit sendiri tutup buku dengan cara tragis: tentara menangkapnya di Boyolali, Jawa Tengah, dan ia tewas dalam siraman satu magazin peluru senapan Kalashnikov serdadu.

WIDIARSI AGUSTINA | PUSAT DATA ANALISA TEMPO