Metro, Jakarta - Ada cerita tersisa dari insiden penyerangan gedung YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia), Jalan Diponegoro 74, Jakarta Pusat, yang dimulai pada Ahad malam, 17 September 2017.
Dalam upaya menghalau para demonstran yang anarkistis, sejumlah polisi ikut jadi korban. "Bayangin aja (polisi) yang di dalam dorong, yang di luar menekan. Gimana tuh, rasanya. Polisinya kepepet," kata Wakil Kepala Polda Metro jaya Brigjend Arianto Purwadi di lokasi pada Senin dini hari, 18 September 2017.
Purwadi, yang ketika itu mengenakan kaos ungu, mengakui bahwa personil Polri tak siap menghadapi massa dari beberapa ormas tersebut. "Mereka (para personil polisi) itu nggak siap," ujarnya.
Menurut dia, awalnya polisi yakin tak akan terjadi bentrokan massa dengan polisi. "Nggak mungkinlah (terjadi bentrok), pikirnya (personil polisi di lapangan)," kata Purwanto.
Purwadi menyatakan tak hafal jumlah polisi yang menjadi korban. "Korban polisi saya nggak hitung. Nantilah di cek."
Dari pengamatan Tempo dari sekitar 20 meter dari titik kericuhan, ada 4 polisi luka di kepala. Di Jalan Mendut beberapa orang terluka di bagian kepala akibat menghalau penyerang gedung YLBHI. Bahkan, polisi sempat ditarik satu persatu oleh rekannya ke sisi dalam Jalan Mendut agar tak menjadi sasaran massa yang mengamuk.
Purwadi juga turut menjaga para peserta pentas seni ASIKASIKAKSI di dalam YLBHI yang akan dievakuasi dari Jalan Mendut. Para peserta dievakuasi ke luar YLBHI sekitar pukul 03.09 WIB menggunakan dua truk Korps Brigade Mobil (Brimob). Evakuasi melalui Jalan Mendut tapi lama kemudian truk polisi kembali ke Jalan Mendut karena ada konsentrasi massa di depan Tugu Proklamasi, Jalan Proklamasi, atau ujung dari Jalan Mendut.
MARIA FRANSISCA | M. YUSUF MANURUNG